Friday, February 7, 2014

Garbagepreneurship

Kuliah Rekayasa dan Kewirausahaan pada tanggal 27 Oktober lalu, diisi oleh seorang alumni Fakultas Teknik yang berhasil mengajak masyarakat untuk meberdayakan sampah yang ada di lingkungannya. Beliau mengaku dirinya sebagai seorang garbagepreneur dan juga sebagai penasihat Bank Sampah WPL. Beliau adalah Baron Noorwendo, seorang pria kelahiran Jakarta pada 14 Juli 1969. Beliau telah menikah dan memiliki enam orang anak.
Pak Baron dan timnya memiliki motto “Sampah: Peluang, Manfaat, Berkah”. Hal ini didasari oleh ternyata sampah masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan, dan jika diolah dengan benar bisa membawa berkah bagi yang mengolahnya.

Menjadi Garbagepreneur ternyata merupakan hal yang menjanjikan, lihat saja peluangnya pertama, pemerintah RI belum dapat membuat sistem yang dapat memutar siklus manfaat sampah. Kedua, sampah adalah bahan baku yang tidak akan discontinue & murah harganya. Ketiga, potensi Local Genius & Local Wisdom dalam masyarakat Indonesia. Keempat, ,msyarakat berpeluang membangun sistem pengelolaan sampah secara mandiri. Kelima, dengan mengelola sampah, kita berpeluang memiliki sumber bahan baku. Keenam, sebagai masalah bersama, pengelolaan sampah dapat membangun ikatan sosial yang kuat.

Menjadi Garbagepreneur sejatinya bukan hanya menjadi seorang pengusaha, mereka memiliki suatu tugas mulia yaitu  membangun & menghidupkan siklus manfaat sampah seperti bagan berikut. Membangun perilaku dan keikutsertaan masyarakat dengan cara kampanye dan kemitraan, melakukan penyuluhan & pelatihan kepada masyarakat menggunakan bahasa sederhana, pekerjaan yang mudah dikerjakan, dan cepat dirasakan hasilnya.

Garbagepreneur juga menangani sampah secara mandiri. Mereka melakukan Recycle sampah non organik, membuat Bank Sampah, memanfaatkan barang seken, mengolah sampah organik, dan membangun program berbasis sampah.

Manfaat yang didapat dari pengelolaan sampah adalah hasil kegiatan yang dapat diukur, berkurangnya volume sampah yang harus dibuang ke TPA, membuka industri kreatif, membuka lapangan kerja.

Dalam melakukan pengelolaan sampah ini ternyata juga membawa berkah tersendiri. Pertama, hasil kegiatan yang tidak dapat diukur. Kedua, kebersihan dan kesehatan lingkungan kita menjadi terjaga. Ketiga, kata Pak Baron, ini merupakan investasi sosial yang akan berdampak di masa yang akan datang. Keempat adalah Networking, pak Baron bercerita bahwa dari pengelolaan sampah ini beliau sampai punya teman dari Jepang dan jaringannya semakin luas.

Dalam praktiknya, menjadi Garbagepreneur tidak semulus yang sudah diceritakan. Ada masalah-masalah yang juga harus dihadapi, pertama pemikiran bahwa pengelolaan sampah memerlukan kepedulian, manajemen dan teknologi. Kedua, secara teknis akan memperkecil siklus manfaat sampah. Ketiga, mengelola sampah memerlukan keterlibatan masyarakat. Keempat, kreativitas & inovasi dalam membangun & menghidupkan siklus manfaat sampah sangat diperlukan. Kelima, Stigma ‘sampah = kotor, jorok & rendah’ masih ada di dalam masyarakat dan harus dihilangkan. Keenam, produk recycle sampah non organik baru sebatas suvenir. Ketujuh, jenis sampah non organik yang dapat diolah sangat sedikit. Dan terakhir, proses pengolahan sampah organik secara mandiri masih terkendala cara yang kurang praktis dan ‘takut bau/kotor’.

Di akhir kuliah, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini juga bisa menghasilkan uang, dengan mengolah sampah menjadi produk yang seperti ini…



Quote terakhir yang diberikan oleh Pak Boron:

“Jika ikan terakhir telah ditangkap dan pohon terakhir telah ditebang, manusia akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.” – Local wisdom suku Dayak Kalimantan

Sumber : http://indraputranto.wordpress.com