Thursday, March 5, 2015

Garbagepreneurship Bersama Komunitas Inovator Sosial

#sampahjadikeren 

Kamis, 19 Februari 2015, kami memenuhi undangan dari Komunitas Inovator Sosial untuk berbagi pengalaman tentang Garbagepreneurship – Bank Sampah Sebagai Solusi Kebersihan. Acara yang dikemas dalam bentuk seminar eksklusif ini diikuti oleh sekitar 24 peserta yang berasal dari berbagai wilayah. Ada yang datang dari Cikarang, Cibitung, Pasar Minggu, Ciledug, Depok dan Pondok Labu. Acara dilangsungkan di Grha Innovator yang berlokasi di bilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Seminar eksklusif ini sangat menantang kami untuk memberikan yang terbaik kepada semua peserta. Semua peserta adalah orang-orang yang hebat. Mereka adalah orang-orang yang peduli terhadap sampah di lingkungan masing-masing. Mereka mendapat info seminar ini sebagian besar melalui media sosial. Rata-rata mereka belum saling kenal dan baru bertemu di saat seminar berlangsung. Artinya, mereka datang sudah dengan keinginan besar untuk membangun mindset dan perilaku yang benar dalam menangani masalah sampah.

Setelah berkenalan secara round table, di awal seminar, kami mengajak para peserta untuk menyamakan persepsi dan definisi tentang sampah. Proses ini kami pandang perlu sehingga kita semua sepakat bahwa masalah sampah adalah masalah kita semua. Tanggung jawab pengelolaan sampah juga merupakan tanggung jawab setiap orang yang menghasilkan sampah. Karena kita semua menghasilkan sampah setiap hari dalam kehidupan kita, maka kita lah yang pertama kali bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan.

Tanggung jawab terhadap sampah kita hari ini, membuat kita semua menyadari bahwa masalah sampah kita hari ini merupakan manifestasi atas dua hal, yaitu:

1. Harkat hidup kita hari ini.
2. Kehidupan generasi penerus kita.

Harkat hidup kita tidak ditunjukkan dari berapa besar kekayaan kita. Melainkan dari bagaimana perilaku dan tanggung jawab kita terhadap lingkungan. Tentunya kita sepakat bahwa pengendara mobil mewah yang membuang sampah sembarangan keluar mobil mereka saat berjalan di jalan raya, bukanlah perilaku yang beradab. Berkaitan dengan masa depan generasi penerus, kita semua harus prihatin dengan fakta rendahnya kesadaran sebagian kita hari ini terhadap sampah dan lingkungan. Karena sampah tidak dipilah dengan benar, ratusan hektar lahan TPA resmi dan berbagai lahan pembuangan sampah tidak resmi menjadi penuh dengan sampah. Demikian juga dengan air kita, termasuk air sungai dan air laut, yang seolah menjadi TPA mengalir dari sampah-sampah kita hari ini. Ditambah lagi dengan udara kita yang harus menyerap oksidan negatif dari perilaku pembakaran sampah. Jika hari ini dan selanjutnya kondisi tidak bisa dikendalikan, maka bagaimana dengan kondisi generasi penerus kita kelak?

Selanjutnya kami membahas tentang proses pemanfaatan sumber daya alam menjadi produk berguna yang dapat digunakan oleh manusia hingga produk tersebut menjadi sampah karena sudah dianggap tidak dapat dimanfaatkan lagi. Berbagai peralatan plastik, kertas dan logam yang kita gunakan telah melalui proses panjang sejak dari bahan baku yang ditambang dari alam, diproses dengan menggunakan air, minyak bumi, energi serta biaya yang besar. Berapa lamakah kita menggunakan selembar tisu? Sadarkan kita, bahwa tisu dibuat dari pohon yang berusia 15-20 tahun? Kita hanya menggunakan selembar tisu dalam beberapa detik. Tetapi proses untuk bisa memproduksi tisu tersebut memakan waktu belasan bahkan puluhan tahun.

Berikutnya, kami membahas upaya solusi untuk membangun mindset dan perilaku positif terhadap sampah. Bagaimana membangun Siklus Manfaat Sampah, hingga membangun program-program yang dibutuhkan oleh lingkungan tempat kita tinggal.

Baron Noorwendo
WA: 081294742033