Sunday, March 24, 2013

Cara Praktis Mengolah Sampah Organik di Rumah & di Kantor


Selesai memasak dan selesai makan, akan ada sisa berupa sampah organik yang kita hasilkan. Sisa nasi, potongan batang sayuran, kulit buah, tulang ikan, potongan daging, kulit ikan dan lain-lain adalah sampah organik yang biasa kita hasilkan di rumah, di restoran dan di kantor. Bagaimana nasib sampah organik kita itu selanjutnya? Sampah organik kita kemudian diangkut ke TPS/TPA untuk selanjutnya menjadi masalah baru di sana. Memang, di rumah atau di kantor kita, sampah tersebut lenyap tak berbekas. Tetapi kemudian menjadi masalah di tempat lain.

         Lalu bagaimana seharusnya? Bagaimana cara mengolah sampah organik yang praktis? Bisakah kita mengolah sendiri sampah organik kita di rumah atau di kantor kita? Adakah cara yang praktis untuk mengolah sampah organik kita? Apakah tidak akan timbul bau dan muncul belatung?

         Ya, ada! Kita dapat mengolah sampah organik kita secara mandiri dan praktis di rumah dan di kantor kita sendiri. Tanpa menimbulkan bau dan pemandangan yang menjijikkan. Tidak akan ada belatung berkeliaran jika proses yang kita lakukan benar.


         Mengolah sampah organik sama dengan kita memindahkan proses alamiah penguraian yang dilakukan oleh bakteri pengurai di alam ke dalam suatu wadah yang mudah untuk dipantau dan dikendalikan. Mengolah sampah organik sama dengan kita memelihara bakteri pengurai. Sebagaimana makhluk hidup yang lain, bakteri pengurai membutuhkan tempat tinggal, nutrisi, air dan oksigen untuk kelangsungan hidupnya. Semua hal inilah yang harus kita sediakan agar bakteri pengurai dapat bekerja mengolah sampah organik kita secara efektif.

         Banyak metode yang telah diperkenalkan. Kami, di Bank Sampah WPL Depok, menerapkan pengolahansampah organik dengan metode Osaki. Alat dan bahan untuk menerapkan metode Osaki sangatlah sederhana dan murah. Semua dapat diperoleh dari sekitar lingkungan kita. Alat dan bahan untuk komposting metode Osaki adalah:
  1. Kardus bekas yang sama ukurannya, sebanyak 2 buah.
  2. Lakban, dan kertas koran untuk merakit dan alas kardus.
  3. Kompos atau dedaunan kering sebagai sumber mikroba.
  4. Dedak/bekatul dan gula merah sebagai starter dan nutrisi awal untuk mengaktifkan mikroba.
  5. Dedak dan gula merah bisa diganti dengan Mikroorganisme lokal yang kita buat dari tape singkong, tape ketan, nanas atau air cucian beras.
  6. Air secukupnya.
Tertarik mengolah sampah secara praktis di rumah dan di kantor? Jika kita dapat mengolah sendiri, kenapa harus diberikan kepada orang lain?
         Selamat mencoba...!

Baron Noorwendo & Sri Wulan Wibiyanti
Bank Sampah WPL
Depok, 24 Maret 2013